Berita

Warta Kita
Berita dan Informasi

Liputan seputar RW.21 dan Informasi.

Berita

Menyiapkan Remaja Menghadapi Pubertas: Pandangan Islam dan Psikologi

M
mdklik
07 Oktober 2025 15 Views
Menyiapkan Remaja Menghadapi Pubertas: Pandangan Islam dan Psikologi

Masa pubertas adalah gerbang menuju dewasa, ditandai dengan perubahan biologis, emosional, dan kognitif yang pesat. Dalam Islam, fase ini menandai dimulainya taklif (pembebanan syariat) seperti kewajiban shalat dan puasa. Sayangnya, banyak orang tua Muslim yang canggung dan diam, membiarkan remaja mencari informasi dari sumber yang salah. Pendekatan yang efektif adalah menggabungkan ilmu psikologi perkembangan dengan bimbingan Islam yang lembut dan jelas. Tujuannya bukan hanya memberi tahu fakta biologis, tetapi membingkai perubahan ini dalam narasi ibadah dan tanggung jawab yang mulia, sehingga remaja melewatinya dengan pemahaman yang benar, harga diri yang terjaga, dan rasa malu (haya’) yang proporsional.

Langkah 1: Membuka Komunikasi Dini dan Proaktif dengan Penuh Kasih Sayang (Rahmah)

Jangan menunggu remaja bertanya. Orang tua harus mengambil inisiatif.

  • Mulai Sebelum Pubertas (Usia 9-10 Tahun): Berikan informasi dasar dengan bahasa yang sesuai usia. Gunakan momen natural, seperti melihat iklan atau saat ada keluarga hamil, untuk memulai percakapan.

  • Pisahkan antara “Aurat” dan “Aib”: Jelaskan bahwa perubahan tubuh adalah fitrah dan tanda kuasa Allah, bukan sesuatu yang memalukan atau kotor. Yang perlu dijaga adalah aurat dan privasi sesuai perintah Allah (QS. An-Nur: 30-31). Rasa malu (haya’) diarahkan untuk tidak menampakkan aurat, bukan untuk membenci tubuh sendiri.

  • Gunakan Pendekatan “Teamwork”: Katakan, “Kamu akan mengalami perubahan sebagai persiapan menjadi dewasa. Ayah/Ibu akan membimbingmu, dan kita akan belajar bersama. Ini adalah anugerah Allah yang harus disyukuri dengan cara menjaganya.”

Langkah 2: Memberikan Pendidikan Seks yang Islami (Tarbiyah Jinsiyah)

Pendidikan seks dalam Islam bukan sekadar “jangan sampai hamil”, tetapi membangun pemahaman holistik tentang tanggung jawab, martabat, dan tujuan penciptaan.

  • Hukum dan Adab Pergaulan (Ikhtilath): Jelaskan dengan tegas namun bijak batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Sampaikan hikmah di baliknya: menjaga kehormatan, mencegah zina mata dan hati (QS. An-Nur: 30), serta memuliakan lawan jenis.

  • Mengenali Godaan Setan dan Cara Mengatasi: Ajarkan bahwa dorongan seksual adalah normal, namun harus disalurkan secara halal melalui pernikahan. Kenalkan konsep ghadhdhul bashar (menundukkan pandangan) dan menjaga hati sebagai benteng pertahanan pertama. Ajarkan doa-doa untuk memohon perlindungan dari godaan.

  • Mempersiapkan Konsep Pernikahan yang Suci (Iffah): Arahkan energi remaja pada tujuan mulia: mempersiapkan diri menjadi calon suami/istri dan orang tua yang shaleh/shalehah. Bicarakan tentang kriteria pasangan yang baik dalam Islam, tanggung jawab pernikahan, dan keindahan rumah tangga yang sakinah.

Langkah 3: Mendukung Perkembangan Identitas dan Kesehatan Mental Remaja

Perubahan hormon seringkali memicu labilitas emosi, rasa insecure, dan krisis identitas.

  • Penguatan Identitas sebagai Muslim/Muslimah: Bantu remaja menemukan kebanggaan pada identitas keislamannya di tengah arus globalisasi. Kenalkan pada figur remaja tangguh di zaman Nabi (seperti Usamah bin Zaid) atau remaja masa kini yang sukses dengan identitas Islamnya.

  • Membantu Mengelola Emosi dan Stres: Ajarkan teknik relaksasi, manajemen waktu, dan pentingnya komunikasi. Jadikan rumah sebagai safe space tempat mereka bisa bercerita tanpa dihakimi. Ajak mereka untuk aktif dalam kegiatan positif (olahraga, seni, dakwah) sebagai saluran energi.

  • Peran Orang Tua Sebagai “Sahabat” yang Dewasa: Transisi dari pola asuh direktif ke lebih konsultatif. Dengarkan lebih banyak, nasihati dengan hikmah, dan hargai pendapat mereka. Kehadiran figur ayah untuk anak laki-laki dan ibu untuk anak perempuan menjadi sangat krusial sebagai role model gender yang sehat.

Kesimpulan: Dari Masa Puber Menuju Mukallaf yang Bertanggung Jawab

Masa pubertas adalah anugerah dan ujian dari Allah. Dengan pendampingan yang penuh ilmu, kasih sayang, dan nilai-nilai Islam, fase ini dapat diubah dari masa “kritis” menjadi masa “persiapan” yang penuh makna. Tujuan akhirnya adalah melahirkan remaja yang mengerti perubahan tubuhnya sebagai ayat Allah, memahami tanggung jawab syariatnya, dan memiliki harga diri serta ketahanan mental yang kuat untuk melalui fase ini dengan selamat, menuju kedewasaan sebagai muslim/muslimah yang siap memikul amanah kehidupan. Orang tua yang sukses adalah yang mampu menjadi pemandu terpercaya dalam perjalanan penting ini.

Referensi:

  1. QS. An-Nur: 30-31 tentang perintah menjaga pandangan dan aurat.

  2. HR. Bukhari tentang haya’ (rasa malu) bagian dari iman.

  3. Buku: Pendidikan Seks untuk Anak Muslim oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd.

  4. Buku: The Teenage Brain oleh Frances E. Jensen (dalam perspektif sains).

  5. Modul: Parenting Remaja oleh Pusat Kajian Keluarga dan Parenting Islami.

Bagikan Artikel Ini

Bantu sebarkan informasi positif ke warga lainnya.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!